Beritaindonesia.co - Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah meminta Presiden Joko
Widodo turun langsung untuk menuntaskan kasus penyiraman air keras terhadap
penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan.
Hal ini disampaikan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil
Anzar Simanjuntak saat bertemu Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin
(17/4/2017) kemarin.
Dahnil mengatakan, dalam pertemuan yang diikuti para ulama
dan tokoh agama itu, Jokowi sempat menyinggung soal penanganan terorisme dan
radikalisme.
Dahnil mengaku menyampaikan penyiraman air keras terhadap
Novel Baswedan adalah tindakan terorisme terhadap pemberantasan korupsi di
Indonesia.
"Bapak harus terlibat langsung menuntaskan kasus Ini.
Bagi saya seharusnya kasus ini mudah dipecahkan oleh pihak Kepolisian kita yang
memiliki aparatur lengkap dan hebat," kata Dahnil saat dihubungi
Kompas.com, Selasa (18/8/2017).
"Bahkan dalam kasus terorisme Polisi dengan mudah bisa
menjelaskan jejaringnya. Apalagi cuma kasus penyiraman air keras yang dialami
oleh Novel, pasti Polisi mudah mengungkap," tambah Dahnil.
Menurut dia, penyelesaian kasus ini sangat tergantung dengan
keinginan politik dari Presiden Jokowi.
Ia menyarankan Presiden membentuk tim pencari fakta yang
melibatkan tokoh-tokoh karena ragu dengan kinerja Kepolisian.
Ia mengingatkan kasus pengeroyokan aktivis Indonesia
Corruption Watch Tama S Langkun pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.
Kasus itu tidak tuntas hingga sekarang.
"Masalahnya ada pada political will. Pesan saya jangan
sampai Pak Jokowi sama saja dengan Pak SBY tidak pernah menuntaskan praktik terorisme
pemberantasan korupsi di Indonesia," ucap Dahnil.
Loading...

