Selasa, 02 Mei 2017

Sandiaga Kaji Parkir Meter, Ahok: Mungkin Ada Ormas Tak Dapat Duit


Beritaindonesia.co - Politisi Partai Keadilan Sejahtera yang menjabat Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, merupakan satu dari 26 pengusul hak angket DPR terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Akan tetapi, sikap Fahri dianggap tak mewakili sikap Fraksi PKS. Bahkan, Presiden PKS menganggap tanda tangan dukungan yang diberikan Fahri hanya akan-akalan.

Ia menganggap langkah Fahri bukan bagian dari kebijakan Fraksi PKS di DPR, melainkan inisiatif pribadi.

PKS menolak usulan hak angket dan mengklaim tidak ada satu pun kadernya yang mendukung hak angket.

"Sedih kader-kader membaca betapa lemahnya pengertian hukum dari para pimpinan ini. Itulah sebabnya saya katakan mereka sudah tidak layak memimpin partai," ujar Fahri, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/5/2017).

"Kalau partai mau jadi besar, bukan mereka yang pimpin. Sebab fatal pandangan-pandangan hukumnya itu. Enggak ngerti konstitusi, enggak ngerti negara. Terus kita mau ke mana?" lanjut dia.

Soal pemecatan sebagai kader partai, Fahri berpegang pada putusan hukum.

Pengadilan menyatakan pemecatan tersebut tidak sah sehingga Fahri berkeyakinan masih sah sebagai kader PKS. Namun, PKS seolah mengabaikan hal itu.

"Tiba-tiba mereka hidup di negara sendiri. Termasuk kawan saya yang suka sosialisasi empat pilar, itu seperti hidup di negara sendiri dan mengatakan ini (pemecatan) sudah final. Lho, final itu bukan di PKS, tapi dalam negara," papar Fahri.

Ia menegaskan, dalam konstitusi negara, ada aturan tegas yang harus dipatuhi. Demikian pula soal pemecatan dari partai.

"Menurut saya ini jelek sekali, merugikan kader-kader di bawah. Kader-kader komplain kepada saya kok Pimpinan PKS seperti tidak mengerti hukum, seperti tidak mengerti di atas partai ada negara dan hukum negara yang harus kita hormati," ujar Fahri. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) enggan berkomentar banyak soal pernyataan cawagub DKI Sandiaga Uno yang menyatakan akan menkaji ulang parkir meter. Namun yang pasti, Ahok menyebut parkir meter bisa menekan warga yang tidak membayar parkir.

"Saya nggak mengerti juga ya, saya nggak komentarlah. Yang pasti, dengan parkir meter kebocoran bisa kita tekan," ujar Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (3/5/2017).

Ahok menyebut bahwa dirinya tetap memberdayakan juru parkir walaupun sudah ada parkir meter. Para juru parkir digaji sesuai Upah Minimum Provinsi (UMP).

"Kita berdayakan semua tukang parkir meter, malah dapat gaji gede, UMP. Anaknya bisa dapat KJP, naik bus nggak bayar," tutur Ahok.

Malahan, Ahok curiga adanya ormas-ormas yang tidak lagi dapat jatah setelah adanya parkir meter. Karena itu, kebijakan parkir meter mau dikaji ulang.

"Mungkin ormas-ormas nggak dapat duit kali ya (dengan adanya parkir meter)," ujar Ahok.

Sebelumnya, Sandiaga prihatin atas masih maraknya parkir liar di Ibu Kota. Sandiaga akan mengkaji ulang penggunaan mesin parkir meter di Jakarta.


"(Parkir meter) akan kaji ulang, review. Kita akan ada pembicaraan-pembicaraan nanti di pokja perhubungan dan transportasi. Akan kita lakukan review. (Parkir meter) ini hanya cocok di negara dengan tingkat individualisme tinggi. Kalau kita lihat di sini, parkir kita parkir dibantuin, belanja ada yang bantuin,"ujar Sandiaga, Selasa (2/5) kemarin
Loading...
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

 
('
loading...