Selasa, 02 Mei 2017

Ketika Simpatisan Ahok-Djarot Pertanyakan Rencana MURI Merekam Rekor Bunga di Balai Kota, Ini Yang Terjadi Selanjutnya..


Beritaindonesia.co - Rencana Lembaga MURI (Museum Rekor Indonesia) untuk memasukan bunga simpati Ahok-Djarot ke dalam catatan lembaganya sebagaimana diwartakan KOMPAS.com (1/5) dalam "Rencana Catat Rekor MURI", dicibir Netizen yang sebagian besar adalah pendukung Ahok-Djarot. Sejumlah komentar netizen beranggapan bahwa MURI tidak netral dan tidak tulus melakukan itu, melainkan karena desakan masyarakat semata.

Pemilik Facebook atas nama Sabarina Karo, menulis, “Tidak masuk MURI juga gak apapa, kok, tapi dunia kan udah pada tahu...”

Di group Facebook SAVE AHOK, seorang pengguna Facebook bernama Nina Kirana menulis, “Pengirim2 bunga untuk BADJA tak butuh dimasukan ke MURI. Mereka tulus mengirimkan bunga2 itu. Jd Jaya Suprana tak perlu repot2 mencari penggagasnya. Karena penggagasnya adalah semua orang2 yg mencintai BADJA”. Ada juga yang cukup emosional menulis, “Pengirim Bunga simpati Ahok-Djarot tidak butuh pengakuan MURI.

" Sejauh pengamatan Kompasianer, ketika bunga simpati mencapai angka 2000, sejumlah pengguna Facebook menulis, “Mestinya, ucapan bunga sebanyak ini sudah masuk MURI”. Tetapi yang lain menimpali, “MURI kan, pendukung seberang (maksudnya, pasangan Anies Sandi”. 

Dari komentar-komentar terhadap pengelola lembaga MURI, tampaknya netizen mempertanyakan independensi lembaga ini. Indipendensi lembaga yang harus terjaga ini, di mata publik telah tampak berpihak secara politik. Lembaga besutan Jaya Suprana itu pun jadi bulan-bulanan ketika setelah KOMPAS.com mengulang pertanyataan MURI yang akan mengecek dulu penggagas karangan bunga Ahok-Djarot, seolah Bunga-simpati itu semacam “rekayasa” atau “ada aktor intelektual” di balik pengiriman bunga. Berita sedemikian makin menimbulkan antipati publik yang umumnya pendukung Ahok-Djarot, kepada pengelola MURI. 

Netralitas, profesionalitas dan integritas pengelola Lembaga MURI pun berpotensi digugat publik. Mungkin Mas Jaya Suprana, Sang "Kelirumolog”, telah keliru mengambil posisi berpihak. Maka, sebaiknya, MURI kembali pada marwah semua lembaga layanan publik yang hidup dari public-trust. Jika sekali, keliru bisa diperbaiki dan dimaafkan. Tetapi apabila melakukan kekeliruan yang sama, maka sanksi moral dari publik akan tiba, Mas Jaya. Apalagi, hari ini ada peristiwa pembakaran bunga sehingga timbul pertanyaan di manakaki Mas Jaya berpijak dan berpihak. Salam keliru, kalau ternyata langkah MURI diwaliki Jaya Prana kali ini benar-benar keliru....
Loading...
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement

 
('
loading...