Beritaindonesia.co - Rencana Lembaga MURI (Museum Rekor Indonesia) untuk
memasukan bunga simpati Ahok-Djarot ke dalam catatan lembaganya sebagaimana
diwartakan KOMPAS.com (1/5) dalam "Rencana Catat Rekor MURI", dicibir
Netizen yang sebagian besar adalah pendukung Ahok-Djarot. Sejumlah komentar
netizen beranggapan bahwa MURI tidak netral dan tidak tulus melakukan itu,
melainkan karena desakan masyarakat semata.
Pemilik Facebook atas nama Sabarina
Karo, menulis, “Tidak masuk MURI juga gak apapa, kok, tapi dunia kan udah pada
tahu...”
Di group Facebook SAVE AHOK, seorang pengguna Facebook bernama Nina
Kirana menulis, “Pengirim2 bunga untuk BADJA tak butuh dimasukan ke MURI.
Mereka tulus mengirimkan bunga2 itu. Jd Jaya Suprana tak perlu repot2 mencari
penggagasnya. Karena penggagasnya adalah semua orang2 yg mencintai BADJA”. Ada
juga yang cukup emosional menulis, “Pengirim Bunga simpati Ahok-Djarot tidak
butuh pengakuan MURI.
" Sejauh pengamatan Kompasianer, ketika bunga simpati
mencapai angka 2000, sejumlah pengguna Facebook menulis, “Mestinya, ucapan
bunga sebanyak ini sudah masuk MURI”. Tetapi yang lain menimpali, “MURI kan,
pendukung seberang (maksudnya, pasangan Anies Sandi”.
Dari komentar-komentar
terhadap pengelola lembaga MURI, tampaknya netizen mempertanyakan independensi
lembaga ini. Indipendensi lembaga yang harus terjaga ini, di mata publik telah
tampak berpihak secara politik. Lembaga besutan Jaya Suprana itu pun jadi
bulan-bulanan ketika setelah KOMPAS.com mengulang pertanyataan MURI yang akan
mengecek dulu penggagas karangan bunga Ahok-Djarot, seolah Bunga-simpati itu
semacam “rekayasa” atau “ada aktor intelektual” di balik pengiriman bunga.
Berita sedemikian makin menimbulkan antipati publik yang umumnya pendukung
Ahok-Djarot, kepada pengelola MURI.
Netralitas, profesionalitas dan integritas
pengelola Lembaga MURI pun berpotensi digugat publik. Mungkin Mas Jaya Suprana,
Sang "Kelirumolog”, telah keliru mengambil posisi berpihak. Maka,
sebaiknya, MURI kembali pada marwah semua lembaga layanan publik yang hidup
dari public-trust. Jika sekali, keliru bisa diperbaiki dan dimaafkan. Tetapi
apabila melakukan kekeliruan yang sama, maka sanksi moral dari publik akan
tiba, Mas Jaya. Apalagi, hari ini ada peristiwa pembakaran bunga sehingga
timbul pertanyaan di manakaki Mas Jaya berpijak dan berpihak. Salam keliru,
kalau ternyata langkah MURI diwaliki Jaya Prana kali ini benar-benar keliru....
Loading...

