Beritaindonesia.co - Ketua umum PAN sekaligus ketua MPR Zulfkifli Hasan mengaku
sempat menemui para alim ulama di Yogyakarta terkait keputusan PAN memberikan
dukungan dalam Pilkada Jakarta putaran dua, menyusul gugurnya Agus Yudhoyono-
Sylviana Murni dalam putaran pertama. Zulkifli mengungkapkan para ulama tak
setuju ketika dirinya mewacanakan PAN memberikan dukungan terhadap Basuki
Tjahaja Purnama ( Ahok)- Djarot Saiful Hidayat.
"Saya tanya para ulama NU, Muhammadiyah, Dewan Dakwah,
Tarbiyah, Badan Koordinasi Muballigh Indonesia (Bakomubin) bagaimana kalau PAN
dukung Ahok? Marah semua. Ada kalimat yang bijak dari Buya Yunhar Ilyas (Wakil
Ketua MUI), khusus saya datang ke situ. Buya gimana? Sudah Pak Zul, ikuti agama
Allah. Insya Allah, Allah akan menolong. Takbir," kata Zulkifli di seminar
nasional kebangsaan Gerakan Muballigh dan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di
Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Selasa (2/5).
Namun, Zulkifli menuturkan sempat sulit tidur pada malam
pencoblosan putaran kedua Pilkada DKI Jakarta, yakni 19 April 2017. Terlebih
sejumlah petinggi parpol meragukan pengusungan Anies termasuk ketum Demokrat
Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, saat mendengar pernyataan Zulkifli, Anies
Baswedan pun menanyakan alasan SBY menilai Anies-Sandi sulit menang.
"Malam tanggal 19 saya enggak tidur. Tapi saya bilang
ke Anies. Nies ini Anda akan menang walaupun Pak SBY bilang sulit menang.
Mengapa Pak SBY bilang sulit menang? Karena Ahok tim suksesnya negara. Kata Pak
SBY loh," kata Zulkifli.
Meski begitu, Zulkifli tetap meyakinkan Anies bakal
memenangi Pilgub DKI. Alasan Zulkifli, waktu pencoblosan yang jatuh tanggal 19
April merupakan tanda-tanda kebaikan.
"Tapi menurut saya Anda menang. Kenapa? Karena
coblosannya tanggal 19," kata Zulkifli kepada Anies.
"Loh ada urusan apa tanggal 19? Dulu guru saya selalu
saya dikasih doa, nah ini doanya dari quran, mukjizat. Kata guru saya mukjizat.
Ini dari quran kalimatnya. Saya selalu disuruh baca doa itu selalu 19 kali. Nah
ini makanya saya bilang menang terus saya. Diadu jadi ketua MPR walaupun gak
cita-cita menang. Nah itu doanya. Kemarin juga diadu jadi ketua partai
menangnya cuma 6 suara pak. Tapi menang juga, alhamdulilah. Coba Anies pakai
ini, bacanya 19 kali habis salat. Jadi yakin menang karena tanggal 19 april.
Jadi ini ada tanda-tanda baik," imbuh Zulkifli.
Menurut Zulkifli, saran para alim ulama itu rupanya tak
salah. Ia pun bersyukur Anies Rasyid Baswedan dan Sandiag Salahuddin Uno menang
dalam Pilgub DKI Jakarta.
"Saya pulang dari Yogya saya tenang. Oleh karena itu
langsung, walaupun dari 4. Bayangkan dari 4. Satu yang deklarasi terang benderang
mulai dari kota madya, provinsi sampai dewan pengurus pusat, kami deklarasi
mendukung Anies-Sandi sesuai dengan suara umat. Alhamdullilah doa 7 juta itu
terkabulkan. Dan kita pun kaget," beber Zulkifli.
Sebelumnya, Zulkifli Hasan mengungkap ada peran Wakil
Presiden Jusuf Kalla dalam pencalonan Anies Baswedan di Pilgub DKI Jakarta
2017. Zulkifli menjelaskan, enam partai yaitu PAN, Demokrat, Gerindra, PKS, PKB
dan PPP awalnya sepakat akan mengusung Yusril Ihza Mahendra dan Sandiaga Uno.
Namun, seiring perkembangan, keenam partai menyadari
pasangan itu akan sulit menang dalam Pilgub DKI. Sehingga, muncul usulan
mengusung pengusaha Chairul Tanjung. Namun, lanjut Zulkifli, saat ditawari
Chairul Tanjung menolak karena usahanya sedang susah.
"Jadi dulu, calon itu Yusril-Sandi, sudah.
Dihitung-hitung enggak menang. Maka dicarilah kesepakatan 6 partai itu.
Akhirnya dicari-cari, coba Chairul Tanjung barangkali. Jam 12 (malam sebelum
pendaftaran) baru ketemu dan kontak Chairul Tanjung. 'Gila kalian, ini usaha
saya lagi susah kok disuruh maju Gubernur'. Itu jawabnya," kata Zulkifli
di seminar nasional kebangsaan Gerakan Muballigh dan Sosialisasi Empat Pilar
MPR RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Selasa (2/5).
Zulkifli menambahkan, setelah mentok, akhirnya Ketua Umum
Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono menyodorkan nama anaknya Agus
Harimurti Yudhoyono (AHY). Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tak
masalah dengan usulan SBY tersebut asalkan Sandiaga Uno yang menjadi calon
gubernurnya. Sebab, Sandiaga telah bergerilya sebagai calon gubernur.
Namun, Zulkifli mengaku Sandiaga Uno mendatangi kediamannya
di Jl Widya Chandra dan menyatakan bersedia menjadi calon wakil gubernur dan
AHY menjadi calon gubernurnya, asalkan Zulkifli dapat memfasilitasi pertemuan
antara SBY dengan Prabowo.
"Nah saya tahu kalau Pak Prabowo, Pak SBY ketemu mesti
ada jaminan 5 tahun selesai. Kira-kira itu pak isinya. Sehingga tak jadi
ketemu. Sudah putus AHY," kata Ketua MPR ini.
Setelah tak menemukan kesepakatan duet AHY dan Sandiaga,
maka Sandiaga Uno kembali pada niatan awal untuk maju sebagai calon gubernur
berpasangan dengan calon wakil gubernur yang kader PKS Mardani Ali Sera. Nah,
di sini Wakil Presiden Jusuf Kalla mengintervensi dan haluan langsung berubah.
Prabowo akhirnya menyetujui mengusung pasangan Anies Baswedan
dan Sandiaga Uno. Padahal, kata Zulkfili, sejak awal tak ada satupun partai
politik yang melirik mantan Mendikbud itu.
"Jam 12 malam sampai jam 1 pagi itu ada intervensinya
Pak JK. Saya kan suka terus terang. Pak JK boleh enggak ngaku saya dengar kok teleponnya.
Pak JK lah yang meyakinkan sehingga berubahlah. tapi di sini (di Cikeas) sudah
kadung mau mengumumkan Agus-Sylvi, jam 2 pagi di sana baru putus akhirnya Anies
diambil, Sandi jadi wakil," ujarnya.
Meski terjadi dua koalisi antara enam partai tersebut,
Zulkifli menjelaskan keenam partai memiliki tujuan yang sama menginginkan
Jakarta harus dijabat oleh Gubernur baru atau dengan kata lain petahana Basuki
Tjahaja Purnama harus kalah.
"Tapi kesepakatan Pak mana yang menang karena kita
ingin perubahan Jakarta karena kita sudah enggak sanggup gubernur yang gaduh
terus. Sudah enggak sanggup dah kita. Orang Betawi bilang sudah enggak tahan
dah. Jadi sepakat kita mesti ada gubernur baru," ujarnya.
Zulkifli menjelaskan saat itu apabila AHY-Sylvi menang, maka
Gerindra dan PKS akan mendukung pasangan Koalisi Cikeas ini. Sebaliknya, jika
jagoan Cikeas kalah, maka mereka harus mendukung pasangan Anies Baswedan dan
Sandiaga Uno.
"Jadi kalau kita menang yang sana gabung, kalau sana
menang kita yang gabung. Janji laki-laki. Betul ini. Janji laki-laki,"
ujarnya.
Loading...

