Beritaindonesia.co - Penyelidikan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik
senior KPK, Novel Baswedan terus berlanjut. Sejak awal kasus ini mencuat,
masyarakat menunggu kepastian siapa pelaku dan sutradara di balik tindakan keji
itu.
Aparat Polda Metro Jaya yang menangani kasus ini terus
berkerja, sudah hampir sebulan. Sayangnya, belum juga nampak aparat kepolisian
telah menemukan pelaku yang menyerang penyidik komisi antirasuah tersebut.
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengatakan untuk kepentingan
penyidikan telah dibentuk tim. Namun Tito mengakui bahwa dalam proses
penyelidikan ini faktor keberuntungan amat berpengaruh. Sebab pelaku tidak
diketahui.
"Timnya sudah dibelah-belah. Ditangani Polda, di-back
up Mabes Polri. Mudah-mudahan saja bisa keungkap, karena faktor 'luck' sangat
menentukan dalam penanganan kasus yang tersangkanya tidak diketahui, faktor
keberuntungan sangat penting," ungkapnya di Taman Makam Pahlawan Kalibata,
Jakarta Selatan, Sabtu (6/5).
Lebih jauh, dia mengatakan dalam penyelidikan kasus Novel
Baswedan, aparat kepolisian menggunakan dua metode, yakin induktif dan
deduktif.
"Ada beberapa metode. Ada namanya metode induktif,
bergerak dari TKP, berusaha mengembangkan keluar," katanya.
Selain bergerak dari TKP, pihak kepolisian akan pula
mengumpulkan informasi dari luar untuk menemukan motif pelaku. Polisi juga akan
mendalami potensi-potensi yang menyebabkan terjadinya penyerangan tersebut.
"Yang kedua, dari luar. Motif, siapa-siapa yang punya
potensi tidak suka dengan korban, baik masalah pribadi, konflik dia dengan
orang lain, atau dengan pekerjaan, kita dalami. Itu namanya metode
deduktif," tutupnya.
Loading...

