Beritaindonesia.co - Setelah mangkrak dalam kurun waktu lima hingga enam tahun,
akhirnya Jalan Tol Akses Tanjung Priok beroperasi pada Minggu (16/4/2017).
Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang langsung meresmikannya
sehari sebelum beroperasinya jalan tol sepanjang 11,4 kilometer tersebut.
Ketika memberikan sambutan, Jokowi menyampaikan berbagai
macam keluh kesahnya terkait rintangan yang menghadang pembangunan Jalan Tol
Akses Tanjung Priok.
"Saya ingat sekali ketika jadi Gubernur DKI Jakarta,
pembebasan lahan yang terganjal membuat (proyek jalan) dua tahun mangkrak.
Alhamdulillah setelah turun ke lapangan beberapa kali itu bisa selesai,"
keluh Jokowi, Sabtu (15/4/2017).
Berikutnya, lanjut Jokowi, ketika pembebasan lahan rampung
datang lagi masalah lainnya berupa 69 tiang harus dipotong dan diganti karena
tidak memenuhi spesifikasi standar seharusnya.
Akibat dua masalah itu, proyek Jalan Tol Akses Tanjung Priok
ini baru bisa rampung pada 2017 ini setelah dimulai konstruksinya sejak awal
2009 silam.
Terkait kendala pembongkaran 69 tiang tersebut, Pemerintah
Indonesia dan empat perusahaan Jepang selaku kontraktor yaki PT SMCC Utama
Indonesia, PT Kajima Indonesia, Obayashi, dan Tobishima, serta pemerintah
Jepang pemberi pinjaman dana sempat terlibat perdebatan sengit sangat intens
dan alot.
Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat ( PUPR) Arie Setiadi Moerwanto menggambarkan, perdebatan itu
berlangsung hingga dua tahun lamanya. Masing-masing mengemukakan
argumentasinya.
"Pemerintah Jepang nggak mau namanya rusak di sini.
Mereka melihat ada mutu yang tidak sesuai dengan kebutuhan. Indonesia dan
Jepang pun kemudian sepakat untuk memperbaikinya," tutur Arie.
Kedua pihak, diakui Arie melihat buruknya mutu tiang beton
tersebut pada medio 2014 atau tahun ketika Jokowi masih menjabat sebagai
Gubernur DKI Jakarta.
Ke-69 tiang tersebut akhirnya dibongkar dengan menggunakan
biaya kontraktor dari Jepang sepenuhnya.
Karena kontraktor Jepang harus membongkar tiang-tiang yang
sudah terpasang, Pemerintah Indonesia kemudian memperpanjang waktu pembangunan
dan meminimalisasi denda atas hal tersebut.
"Akhir 2014 semua itu dibongkar dan upaya ini jadi
bukti kalau kami nggak main-main dengan namanya kualitas infrastruktur, begitu
ada yang nggak sesuai ya kami bongkar," tegas Arie.
Mutu beton, menjadi materi perdebatan, karena tidak sesuai
dengan spesifikasi standar.
Menurut Arie, mutu beton yang digunakan untuk membangun 69
tiang itu awalnya bagus ketika masih ada di pabriknya.
Tetapi kemudian akibat kondisi jalanan macet dan lain
sebagainya menuju lokasi pembangunan berubah mutunya dan begitu dituang tidak
sesuai spesifikasi.
Ramah lingkungan
Namun kini, Arie memastikan bahwa Jalan Tol Akses Tanjung
Priok yang dibangun dengan biaya Rp 5 triliun tersebut sudah sesuai standar
yang diinginkan oleh Pemerintah Indonesia dan Jepang.
Jokowi sendiri yakin jika Jalan Tol Akses Tanjung Priok ini
bisa menjadi pengurai kemacetan di sekitar kawasan menuju pelabuhan.
Terutama memperlancar penyebaran barang-barang ke pelabuhan
lain dan meningkatkan kecepatan kontainer dalam keluar masuk pelabuhan.
"Nantinya ini akan dilewati kurang lebih 3.600 truk
setiap hari. Oleh sebab itu ini akan memiliki daya saing kecepatan pengantaran
barang-barang dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok karena ini merupakan main
port kita," papar Jokowi.
Selain itu, meskipun dibangun dalam waktu cukup lama, Jalan
Tol Akses Tanjung Priok diklaim menjadi jalan tol ramah lingkungan karena
adanya sound barrier atau peredam suara di pinggir-pinggirnya.
"Sehingga Rumah Sakit Koja yang ada di sisi jalan tol
tidak akan terganggu sama sekali dengan keramaian di jalan tol," sambung
Arie.
Jalan Tol Akses Tanjung Priok terdiri dari lima seksi yakni
Seksi E-1 Rorotan-Cilincing sepanjang 3,4 kilometer, dan Seksi E-2
Cilincing-Jampea dengan panjang 2,74 kilometer.
Kemudian Seksi E-2A Cilincing-Simpang Jampea sepanjang 1,92
kilometer, NS Link Yos Sudarso-Simpang Jampea sepanjang 2,24 kilometer, dan NS
Direct Ramp dengan panjang 1,1 kilometer.
Untuk Seksi E-1 Rorotan - Cilincing sendiri telah rampung
dan dioperasikan tanpa tarif sejak 2011.
Sementara itu, kontraktor pelaksana Jalan Tol Akses Tanjung
Priok terdiri dari Kerja Sama Operasi (KSO) kontraktor Jepang dan Indonesia,
yakni SMCC- PT Hutama Karya, Kajima-PT Waskita Karya, Obayashi-PT Jaya
Konstruksi, dan Tobishima-PT Wijaya Karya.
Loading...

