Beritaindonesia.co - Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta tetap mengakomodasi
kebutuhan warga penyandang tuna rungu atau gangguan pendengaran dengan
menyediakan penerjemah bahasa isyarat dalam acara debat calon gubernur-calon
wakil gubernur DKI Jakarta, Rabu (12/4/2017) malam.
Perkumpulan Penerjemah Bahasa Isyarat Indonesia atau
Indonesian Sign Language Interpreters (Inasli) ditunjuk untuk menyediakan
penerjemah-penerjemah itu. Sasanti Soegiarto, Edik Widodo, dan Pinky, kemudian
dipilih menjadi penerjemah ucapan cagub-cawagub dalam debat ke bahasa isyarat.
"KPU dituntut untuk memberikan akses yang sama lho.
Satu suara saja berpengaruh lho," ujar Edik, kepada Kompas.com, di Hotel
Bidakara, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (13/4/2017).
Edik mencontohkan pada Pilkada Banten 2017. Pasangan Rano
Karno-Embay Mulya Syarief kalah perolehan suara hanya sekitar 1 persen dari
pasangan Wahidin Halim-Andika Hazrumy.
"Itu di Banten, apalagi di Jakarta 0,5 persen suara
saja berpengaruh," ujar Edik.
Selain itu, penyandang disabilitas seperti tuna rungu juga
menjalankan kewajiban yang sama seperti warga lainnya. Edik mengatakan mereka
sama-sama membayar pajak demi pembangunan di Jakarta.
Sudah seharusnya, kata Edik, mereka mendapatkan hak yang
sama dengan warga Jakarta lainnya.
"Bayar pajak PBB, motor, sama-sama tidak didiskon.
Makan pun sama-sama kena pajak. Maka dalam hal pelayanan harus sama juga.
Kesetaraan hak ya seperti itu," ujar Edik.
Selama debat berlangsung, Edik menggunakan ekspresi-ekspresi
yang mencolok saat menerjemahkan ucapan cagub-cawagub ke dalam bahasa isyarat.
Dia mengatakan hal itu dilakukan agar para tuna rungu mengerti maksud yang
disampaikan dua pasangan calon tersebut.
Edik tidak peduli jika aksinya menjadi bahan olokan.
"Dari pada kami jaim tapi mereka enggak mengerti. Orang
lain bilang kami konyol, enggak apa-apa itu harga yang harus kami bayar, yang
penting pesannya sampai," ujar Edik.
Loading...

