Beritaindonesia.co - Debat final Pilgub DKI Jakarta yang diikuti pasangan Basuki
Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno rampung
digelar. Walau pada awal sesi jawaban yang dilontarkan normatif, suasana
memanas pada akhir acara.
"Baru menjelang sesi akhir, terutama sesi
timpal-menimpal, tanya-jawab antarpasangan calon (paslon), mulai panas. Yang
paling panas soal reklamasi dan pertanyaan seputar rumah susun. Jadi juga
menjadi pertanyaan yang memancing diskusi di antara kedua pasangan calon,"
kata peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS) Arya
Fernandes lewat sambungan telepon kepada detikcom, Rabu (12/4/2017).
Menurutnya, masing-masing pasangan calon cukup belajar dari
pengalaman sebelumnya dengan lebih berhati-hati dalam bertutur. Bukan hanya
terhadap reaksi lawan, namun juga reaksi dari penonton. Arya menyampaikan ada
tiga alasan yang melatarbelakangi ini.
"Sikap kehati-hatian (pada awal segmen) dilakukan
menghindari terjadinya blunder. Kedua, agar tidak mendapatkan bullying di media
sosial. Ketiga, karena mereka benar-benar memastikan perkataan mereka
berdasarkan fakta-fakta dan data-data," terangnya. Kehati-hatian keduanya
tampak pendapat dalam menyusun RAPBN dengan menitikberatkan pada transparansi.
Dalam debat yang diadakan di Hotel Bidakara, Tebet, Jakarta
Selatan, itu, kandidat calon nomor 2 maupun 3 memang tidak ada yang lebih
dominan. Keduanya sama-sama memiliki jawaban yang unggul pada salah satu
program, namun lemah pada program lainnya. Seperti pasangan Ahok-Djarot yang
lebih unggul pada program kesehatan yang telah berjalan, sementara Anies-Sandi
berhasil memaparkan programnya soal transportasi terintegrasi.
"Program kesehatan Ahok lebih mudah dicerna oleh
masyarakat. Puskesmas, ketok pintu dengan hati, sanitasi, PKK, itu jelas
pelaksanaannya. Sedangkan transpor Anies programnya lebih unggul. Bagaimana
proses dan formula integrasi transportasi, soal satu tiket. Subsidi bukan hanya
untuk TransJ, tapi untuk semua. Juga menggandeng transportasi online,"
paparnya.
Sementara itu, soal reklamasi dinilai merupakan isu penting
yang menambah poin masing-masing calon. Walau keduanya kali ini bertolak
belakang.
"Penggunaan isu reklamasi juga menggunakan data riset,
terutama reaksi masyarakat. Pak Ahok cukup berhasil menjelaskan apa itu
reklamasi dan manfaatnya. Dengan menjelaskan pembangunan tempat penyimpanan
ikan, restoran apung, ke depannya nelayan punya hak tinggal di sana. Sementara
Anies lebih fokus pada penegasan kembali sikapnya soal penolakan reklamasi
dengan memberi solusi peningkatan keterampilan nelayan, yaitu pelatihan
perkapalan, juga rehabilitasi sungai di Jakarta," imbuh Arya.
Meski debat kali ini berjalan lebih tenang dan tanpa
intervensi persoalan pribadi yang menimpa lawan, aroma kompetisi masih kental.
Ini tampak pada akhir sesi ketika Ira Koesno sebagai moderator melontarkan
pertanyaan terakhir soal ungkapan pribadi setiap calon Gubernur DKI Jakarta
kepada lawannya dan soal penyatuan masyarakat yang telanjur terbelah dalam
pilgub ini.
"Masalah persatuan pascakampanye, kedua kandidat,
meskipun sudah menyampaikan apa yang akan mereka lakukan untuk menyatukan
bipolarisasi masyarakat, tapi belum terlihat cara efektif untuk mengurangi
efeknya. Masih normatif dengan menelepon, menggandeng. Bisa jadi karena
kompetisi masih berlangsung. Mungkin maka dari itu jawabannya masih
normatif," jelasnya.
Arya juga memprediksi dalam waktu sepekan ke depan masih
akan ada langkah signifikan yang akan diambil. Pasalnya, dari debat ini
memperlihatkan bahwa kekuatan keduanya kini cukup seimbang, berbeda dari pilgub
putaran pertama Februari lalu.
"Karena beda tipis, makanya di minggu-minggu terakhir
akan dicari momentum yang tepat untuk mendapat perhatian rakyat. Seperti Pak
Jokowi yang umrah, kemudian salam dua jari, dan jadi viral. Masa-masa yang
sangat genting dan menentukan. Kedua pasangan akan memikirkan strategi itu
melalui program atau isu. Karena, kalau kehilangan momentum, pasti akan
kehilangan suara," pungkasnya.
Loading...

