Beritaindonesia.co - Dua hari lagi menjadi pesta demokrasi lanjutan putaran dua
untuk warga Jakarta. Lebih dari 7 juta warga Ibu Kota akan menggunakan hak
pilihnya menentukan gubernur dan wakil gubernur untuk lima tahun ke depan.
Gagasan program agar Jakarta lebih baik sudah disampaikan
dua pasangan calon yang lanjut ke putaran dua yaitu petahana Basuki Tjahaja
Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
Enam bulan lebih, dua paslon ini sudah blusukan termasuk
melakukan kampanye menemui warga di berbagai daerah Jakarta. Harapan dan
keluhan persoalan hidup di Jakarta disampaikan langsung warga kepada dua
paslon.
Pengalaman mengelilingi Jakarta, membuat calon gubernur DKI
nomor urut tiga Anies Rasyid Baswedan menyiapkan beberapa program mengatasi
masalah sosial seperti pendidikan, kesehatan, sampai pengangguran. Jika
terpilih, pria kelahiran Kuningan, 7 Mei 1969 ini siap menjalankan programnya
seperti Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus, Kartu Jakarta Sehat (KJS) Plus, hingga
menghentikan proyek reklamasi Teluk Jakarta.
Bagi cucu pejuang kemerdekaan Abdurrahman Baswedan ini, bila
terpilih menjadi Gubernur DKI merupakan tugas yang harus siap dijalani.
"Allah yang maha menentukan. Jadi, kami menjalani
takdir. Bila ditakdirkan, kami siap," kata Anies ketika menerima
VIVA.co.id, Selasa, 11 April 2017.
Anies menilai melajunya ia bersama Sandiaga sampai putaran
dua Pilkada DKI, berkat ikhtiar dan doa ribuan warga Jakarta yang ingin ada
perubahan. Ia juga mengaku tak mengira sekitar delapan bulan lalu dicalonkan
jadi cagub DKI usai tak menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan lagi.
Perbincangan dengan Anies berlangsung hangat di kediamannya,
Jalan Lebak Bulus Dalam II, Cilandak, Jakarta Selatan.
Dua hari lagi pencoblosan, bagaimana persiapan Anda sejauh
ini?
Kami meneruskan apa yang sudah dikerjakan sebelumnya.
Pilkada ini tentang perubahan bagi warga Jakarta. Kita ingin warga Jakarta,
setiap keluarga merasakan manfaat dan merasa bersyukur tinggal di Jakarta.
Kenapa? Ada lapangan pekerjaan, ada pendidikan yang baik untuk anak-anaknya.
Ada biaya hidup yang terjangkau. Ada kesehatan yang baik. Jadi kami di dalam
putaran kedua ini terus fokus pada tema-tema, rencana-rencana untuk mengubah
kondisi warga Jakarta.
Selama ini apa yang masih kurang dilakukan Pemprov DKI?
Kita perlu fokus pada membangun manusianya. Dan, membangun
manusianya itu artinya memperhatikan kondisi kesehatan, memperhatikan kondisi
pendidikannya, memperhatikan masyarakatnya, memperhatikan kebutuhan hidupnya.
Jadi, misalnya kalau kita lihat, ternyata di Jakarta 49
persen tidak punya rumah. Coba, di Ibu Kota negara, 49 persen penduduknya tidak
punya rumah. Karena itu kita punya solusi perumahan untuk mereka.
Ketika dicek warga Jakarta bukan enggak bisa punya rumah.
Mereka bisa nyicil, tapi enggak punya uang untuk bayar DP. Oke, kita punya
program, nyicil rumah tanpa DP. Ini contoh, karena yang kita pikirkan
manusianya.
Kita lihat, kenapa banyak pengangguran, apalagi di Jakarta
Utara. Ternyata 48 persen anak usia SMA di Jakarta Utara tidak sekolah,
separuhnya. Jadi, Jakarta itu bukan kumpulan gedung, Jakarta itu kumpulan
manusia, yang harus dibangun itu manusianya.
Untuk membangun manusianya harus disiapkan infrastrukturnya,
jangan dibalik seakan-akan yang harus dibangun infrastrukturnya, manusianya
tidak. Karena itu kami dari awal siapkan program untuk lansia, bukan mendadak.
Program untuk warga bukan mendadak.
KJP plus untuk anak-anak yang putus sekolah, tidak mendadak,
dari awal-awal. Kenapa? karena kami di awal
fokus kita pada manusia. Nah, kita menggariskan pada yang namanya
gubernur di DKI Jakarta bukan saja memimpin birokrasi, tapi dia juga memimpin
warganya. Jadi, yang dipikirkan bukan saja birokrasi harus berjalan dengan
baik, tetapi apakah warga bisa berinteraksi dengan baik.
Saya di kampung ini adalah pembina karang taruna di RT,
bertahun-tahun sudah. Enggak pernah ada dukungan dari pemerintah sama sekali.
Tanya ke semua pembina karang taruna di mana-mana, enggak ada. Kalau kami
ketika bertugas justru kita akan dukung karang taruna, majelis taklim, PKK.
Karena inilah yang dibawa membangun interaksi. Warga jadi berinteraksi,
berkomunikasi. Kalau begitu, muncul saling kepercayaan.
Jadi, tugas gubernur bukan hanya menjalankan APBD. Tugas
gubernur adalah membangun seluruh Kota Jakarta, warga Jakarta, sehingga ini
menjadi sebuah kota yang hidup. Yang warganya merasa nyaman. Maka itu, kenapa
kita katakan bukan saja maju kotanya, tapi bahagia warganya.
Loading...

