Beritaindonesia.co - Hubungan PKS dengan Fahri Hamzah yang pasang-surut sejak setahun lalu kembali panas saat keduanya berbeda sikap dalam hak angket KPK. Berawal dari pemecatan, kini Fahri merasa miris karena tidak diakui meski menang gugatan.
Perseteruan antara PKS dan Fahri Hamzah berawal saat partai
pimpinan Sohibul Iman itu memecat Fahri dari seluruh keanggotaan partai pada
April 2016. Fahri dituduh telah melanggar disiplin organisasi dan tak patuh
terhadap kebijakan partai.
Fahri melawan. Dia menggugat PKS ke Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat dan mengadukan para petinggi PKS, yaitu Sohibul Iman, Hidayat Nur
Wahid, dan Surahman Hidayat, ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).
PKS sebenarnya juga mencopot Fahri dari posisi pimpinan DPR
dan menggantinya dengan Ledia Hanifa. Namun, sejalan dengan gugatan Fahri di PN
Jaksel, pencopotan Fahri dari posisi pimpinan DPR tidak bisa direalisasi.
Pada Desember 2016, PN Jaksel mengetok putusan yang
memenangkan Fahri Hamzah dan menyatakan pemecatannya tidak sah. Tidak terima,
PKS kemudian mengajukan banding yang hingga saat ini belum ada putusannya.
Selama pasang-surut hubungan sarat gugatan ini, PKS tidak
pernah mengakui Fahri Hamzah sebagai kader. Oleh sebab itu, ketika Fahri
mengaku sebagai perwakilan PKS yang meneken hak angket terhadap KPK, PKS
kemudian bereaksi.
Presiden PKS Sohibul Iman menegaskan pihaknya menolak
keputusan hak angket terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi yang diambil DPR
melalui ketok palu Fahri. Ia menegaskan tidak ada satu pun anggotanya yang
setuju dengan hak angket itu.
"Ya kan Anda tahu Pak Fahri sudah bukan lagi anggota
Fraksi PKS dan itu hanya akal-akalan menulis saja," kata Sohibul di Hotel
Sahid, Jakarta Selatan, Minggu (30/4/2017).
Fahri heran terhadap PKS yang tidak mengakuinya sebagai
kader, padahal keputusan pengadilan mengatakan sebaliknya. Dia membandingkan
pemecatannya dari PKS ini dengan perceraian suami-istri yang gugatannya tidak
diterima di pengadilan.
Fahri merasa miris dengan kondisi ini. Anggota DPR dari
Dapil Nusa Tenggara Barat ini meminta PKS menaati hukum yang sudah memenangkan
dirinya.
"Saya nggak tahu itu. Katanya kan saya nggak diakui.
Tapi saya mau begini ya, saya terus terang miris," ujar Fahri di kompleks
parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/5/2017).
Loading...

