Beritaindonesia.co - Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menilai
adanya politisasi agama tidak bisa hanya diarahkan terhadap pihak yang
berpolitik atas nama agama. Tapi juga terhadap pihak yang mendekonstruksi
pikiran orang lain dengan memanfaatkan isu agama.
Untuk pihak yang kedua ini, Haedar mencontohkan mengenai
adanya kegiatan peresmian rumah ibadah saat masa tenang pilkada. Menurut
Haedar, kegiatan tersebut sebenarnya termasuk politisasi agama.
"Boleh jadi kalau ada seorang pejabat resmi meresmikan
masjid, atau gereja atau tempat ibadah pada saat minggu tenang, atau pada saat
masa kampanye, itu juga termasuk politisasi agama," kata Haedar saat
memberikan kuliah kebangsaan di kampus Universitas Prof Hamka, Pasar Rebo,
Jakarta Timur, Selasa (11/4/2017).
Haedar berharap hal yang dikhawatirkannya itu tidak terjadi.
Walaupun ia tak yakin harapannya itu akan terjadi. Yang pasti, Haedar menilai
politisasi agama merupakan paradoks yang bisa dilakukan oleh pihak manapun.
Tergantung kepentingan dan cara yang dilakukannya.
"Saya yakin teman-teman di dunia politik sudah paham.
Cuma rakyat yang sering tidak paham," ujar Haedar.
Loading...
