Beritaindonesia.co - Siapa menabur angin akan menuai badai. Buntut dari aksi
nyinyir Indosat Ooredoo di media sosial saat Telkomsel kena retas--gara-gara
sang hacker mengeluh tarif internet mahal, malah berbuntut panjang.
Setelah Telkomsel seharian bertengger di pemuncak trending
topic Twitter, Jumat kemarin, malamnya giliran Indosat yang kena bully netizen.
Hashtag #IndosatLemot pun membahana karena ramai dipergunjingkan dan ikut masuk
trending topic.
Disindir hacker bak 'pahlawan kesiangan', sang operator
seluler milik Group Ooredoo dari Qatar tersebut pun akhirnya ikutan kena retas
situsnya.
Sejatinya, tak hanya Indosat saja yang mencuri momentum
insiden ini. XL Axiata pun demikian. Lewat cuitannya, XL ikut menyindir
pengguna 'tarif mahal' Telkomsel agar bersabar. Ini ujian katanya, sembari
berpromosi kuota YouTube tanpa batas mereka.
Namun belakangan, cuitan XL itu pun dihapus menyusul Indosat
yang lebih dulu coba menghilangkan barang bukti. Namun sayangnya, screenshot
dari cuitan kedua operator ini telah menyebar luas di media sosial, dan sampai
juga ke telinga Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).
I Ketut Prihadi, Anggota Komite Regulasi BRTI, menilai
Indosat dan XL tak seharusnya berbuat demikian. Apalagi di tengah upaya BRTI
bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk membangun suasana kondusif
di tengah panasnya kompetisi di industri telekomunikasi.
"Secara etika, apa yang dialami Telkomsel sebainya
tidak dimanfaatkan untuk marketing produk operator lain. Secara regulasi
telekomunikasi memang tidak ada yang dilanggar, tapi dari sisi etika beriklan
ada Etika Pariwara Indonesia yang wajib dipedomani," ujarnya kepada
detikINET, Sabtu (29/4/2017).
"Kalau hal yang sama terjadi pada operator lain,
di-hack juga, pasti mereka juga tidak ingin hal tersebut dimanfaatkan oleh
operator lain untuk promosi yang mendiskreditkan operator yang sedang ditimpa
masalah," jelas Ketut lebih lanjut.
Buntut dari semua itu, BRTI pun akan menyemprit Indosat dan
XL terkait masalah etika pariwara yang terjadi melalui teguran tertulis yang
akan dikirimkan langsung kepada direktur utama masing-masing operator.
"Dengan surat tertulis ke semua operator, hal ini
merupakan langkah formal yang cukup keras agar semua operator agar tetap
menjaga etika. Surat akan ditujukan langsung kepada dirut masing-masing,"
pungkas Ketut.
Loading...

