Beritaindonesia.co - Akhir pekan, Sabtu (22/4/2017) lalu Presiden Joko Widodo
(Jokowi) tengah membuka Kongres Ekonomi Umat 2017 di Hotel Grand Sahid,
Jakarta. Saat bicara soal redistribusi aset dan reformasi agraria, Jokowi
tiba-tiba menyinggung soal pergantian atau pergeseran menteri, apa ujungnya?
Menurut dia menteri yang tak bisa menyelesaikan target bisa
diganti, digeser atau dicopot. "Saya bekerja selalu memakai target jadi
Pak Menteri tidak pernah bertanya kepada saya, targetnya terlalu besar atau
terlalu gede, itu urusan menteri. Tahu saya target itu harus bisa diselesaikan.
Kalau tidak selesai urusannya akan lain, bisa diganti, bisa digeser, bisa
dicopot dan lain-lain," kata Jokowi saat membuka peresmian Kongres Ekonomi
Umat (KEU) 2017 di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Sabtu (22/4/2017).
Saat Jokowi membuka pidato, ada sejumlah menteri di ruangan
itu. Mereka antara lain: Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil,
Mensesneg Pratikno, Menteri Koperasi UKM Puspayoga dan Menkominfo Rudiantara.
Sebaris kalimat Jokowi soal pergantian menteri tersebut
kemudian memunculkan isu bakal adanya reshuffle kabinet jilid III. Presiden
Jokowi pun buru-buru membantah bakal ada perombakan kabinet dalam waktu dekat.
Syahdan. Presiden Jokowi tak hanya sekali ini saja menyentil
soal reshuffle kabinet di depan Menteri Agraria dan Tata Ruang. Pada Sabtu, 26
Desember 2015 lalu di Boyolali, Jawa Tengah, Jokowi juga menyinggung soal
pergantian kabinet.
"Saya selalu memantau pembangunan-pembangunan
infrastruktur di daerah karena ini sangat penting. Jika saya monitor
penggarapan jalan terasa lambat, saya langsung tanya mengapa lambat. Dijawab
ada masalah pembebasan tanah, saya langsung telepon Menteri Agraria agar segera
menyelesaikan persoalan itu. Saya beri waktu 1,5 bulan, kalau belum juga
dikerjakan maka saya beri rapor merah. Itu yang nanti kena reshuffle. Begitu
cara saya bekerja," kata Jokowi kala itu.
Lagi-lagi Jokowi kemudian membantah akan ada reshuffle.
Namun faktanya, enam bulan kemudian tepatnya Juni 2016 Jokowi merombak susunan
kabinetnya. Menteri Agraria dan Tata Ruang Ferry Mursyidan Baldan diganti
Sofyan Djalil.
Lalu, apa makna kalimat Jokowi yang akan mengganti,
menggeser, bahkan mencopot menteri yang tak mencapai target?
Direktur Eksekutif IndoBarometer M. Qodari mengatakan bahwa
kalimat Jokowi soal kemungkinan mengganti menteri yang tak mencapai target
tentu bukan tanpa alasan. "Pernyataan itu tak mungkin jatuh dari langit,
bukan jatuh di ruang hampa. tentu ada sebabnya dan itu tergantung tafsir
orang," kata Qodari kepada wartawan, Rabu (26/4/2017).
Menurut dia, ada dua kemungkinan tafsir atas pernyataan
Jokowi tersebut. Pertama memang kalimat tersebut disampaikan Jokowi melihat
kinerja menterinya yang memang tak sesuai target.
Tafsir kedua, pernyataan Jokowi tersebut ditujukan kepada menteri-menteri
yang partainya mbalelo. "Ini habis Pilkada Jakarta, ada partai yang
mbalelo ada juga tokoh mbalelo. Ini bisa jadi peringatan buat yang mbalelo,
Presiden akan mengeluarkan reshuffle," tutur Qodari.
Loading...

